Penghujat yang 'Andal'

Kita lihat belakangan ini semakin ramai saja ranah "kolom komentar" di berbagai media sosial dan platform. Apapun jenis berita dan pembahasan yang ramai dibicarakan netizen seperti kasus yang dialami oleh publik figur, atau insiden yang diderita beberapa tokoh publik, bahkan tokoh agama yang sedang menyampaikan tausiyah keagamaan pun tak luput dari "sumbangsih" kolom komentar yang selalu diisi banyak orang, baik itu akun asli maupun anonim.


 


Yang penulis sesalkan adalah diksi yang dipakai oleh netizen di negeri ini. Seringkali kita temukan adanya umpatan atau kata-kata kasar yang seharusnya tidak dilontarkan dengan mudahnya kepada orang lain apalagi seseorang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka atau bisa dikatakan mereka tidak mengenal dekat atau bergaul dengan orang tersebut. Tidak bisa dibayangkan bahwa setiap hari ada saja kalimat kebencian atau caci maki yang harus dibaca oleh publik figur atau tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat setiap membuka akun media sosial. Tidak heran jika mereka harus membayar psikiater untuk menjaga kondisi mental mereka agar tidak "dibunuh" oleh pengguna media sosial yang tidak memiliki sopan santun dan tutur kata yang kotor.


 


Dari sini penulis berpikir bahwa seharusnya para pengguna sosial media atau platform dunia maya harus diberi edukasi lagi tentang cara menggunakan berbagai platform maya atau media sosial secara bijak. Atau bisa juga pendidikan karakter dan edukasi mengenai etika dan moral (dalam agama Islam disebut akhlaq) terhadap orang lain digalakkan secara luas. Karena para netizen di negeri ini tidak lagi menyerang tokoh publik di dalam negeri, tetapi juga mereka banyak yang berani menyerang tokoh-tokoh atau lembaga yang statusnya sudah dikenal di dunia internasional, dan lebih mirisnya lagi kolom komentarnya penuh dengan komentar kasar dan tidak bermoral dari netizen Indonesia (yang lebih parahnya menggunakan bahasa Indonesia). Hal ini tentu membuat nama Indonesia tercoreng dan jadi sorotan tajam dari dunia internasional, namun yang tidak menggunakan aset dari Tuhan (baca:akal/otak) dengan baik tentu mereka tidak merasa bersalah sudah mempermalukan negaranya sendiri.


 


Hanya opini pribadi dari penulis saja. Dan hal seperti ini tidak akan terpikirkan oleh penulis jika tidak ada diskusi sejenak dengan teman-teman penulis mengenai hal ini. Penulis hanya menyoroti tindakan netizen yang (merasa) maha benar sekaligus "bangga" dengan "profesi" mereka sebagai "penghujat yang andal".

Komentar